{"id":24773,"date":"2025-12-17T03:19:43","date_gmt":"2025-12-16T20:19:43","guid":{"rendered":"https:\/\/solped.net\/paroki\/?p=24773"},"modified":"2025-12-17T03:21:36","modified_gmt":"2025-12-16T20:21:36","slug":"facts-on-weekend-special-7-urgensi-gereja-darurat-kedua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solped.net\/paroki\/facts-on-weekend-special-7-urgensi-gereja-darurat-kedua\/","title":{"rendered":"Facts On Weekend Special #7: Urgensi Gereja Darurat Kedua"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"24773\" class=\"elementor elementor-24773\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-2aa1f262 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default sc_fly_static\" data-id=\"2aa1f262\" data-element_type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-extended\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-c92042c sc_content_align_inherit sc_layouts_column_icons_position_left sc_fly_static\" data-id=\"c92042c\" data-element_type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-693ace52 sc_fly_static elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"693ace52\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<style>\n.paroki-1 {\n  font-family: Poppins, Arial, sans-serif;\n  line-height: 1.65;\n  color: #222;\n}\n.paroki-1 h2 {\n  font-family: Recoleta, Georgia, \"Times New Roman\", serif;\n  font-size: 1.6em;\n  margin-top: 1.8em;\n  margin-bottom: 0.6em;\n}\n.paroki-1 p {\n  margin: 0 0 0.8em 0;\n}\n.paroki-1 ul {\n  margin-left: 1.2em;\n}\n.paroki-1 li {\n  margin-bottom: 0.5em;\n}\n.paroki-1 .sumber {\n  font-size: 0.9em;\n  color: #444;\n}\n.paroki-1 .caption {\n  font-size: 0.95em;\n  color: #333;\n  margin-top: 1.5em;\n}\n<\/style>\n\n<div class=\"paroki-1\">\n\n<h2>Tujuan Lahan di Prinsenlaan No. 26<\/h2>\n<p>Dalam slide \u201cCikal Bakal Paroki\u201d edisi kelima lalu, ada info setelah Paroki diresmikan, Pastor Leo Zwaans merencanakan membangun gedung gereja di Jalan Prinsenlaan no. 26. Hal ini juga diperkuat oleh sebuah artikel di Majalah Kontak edisi Januari 1981. Sayangnya, rencana itu tidak terwujud.<\/p>\n<p>Selain karena situasi yang lalu berubah menjadi Perang Dunia II dan pastor-pastor Belanda diinternir, rencana ini juga tidak mendapat sambutan yang baik. Akhirnya lahan di Jalan Prinsenlaan itu ditujukan untuk lokasi Gedung Pastoran. Kondisi ini berlangsung dari tahun 1946 hingga tahun 1950.<\/p>\n\n<h2>Kerepotan yang Terjadi<\/h2>\n<p>Saat itu, \u201cGereja Darurat\u201d Pertama di pendopo Sekolah Boedi Moelia (Jl. Prinsenlaan no. 135) tetap dipertahankan sebagai tempat mengadakan Misa Kudus. Namun dalam perkembangannya, dua lokasi yang berbeda untuk Gereja (Prinsenlaan no. 135) dan Gedung Pastoran (Prinsenlaan no. 26) menimbulkan berbagai kerepotan. Khususnya bagi pastor yang mengadakan misa.<\/p>\n<p>Iya juga yah, apalagi di masa sebelum 1950, akses belum semodern sekarang. Lantas, gimana solusinya?<\/p>\n\n<h2>Pembangunan \u201cGereja Darurat\u201d Kedua<\/h2>\n<p>Akhirnya dengan bantuan dari PGDP (Pengurus Gereja Dana Papa) Katedral diputuskan untuk membangun \u201cGereja Darurat\u201d Kedua di sekitar halaman Gedung Pastoran itu. Terbuat dari tiang kayu, dinding tembok setengah batu, dan atap genteng.<\/p>\n<p>Pembangunan dimulai sekitar 1 Maret 1950, dengan dana pinjaman 60.000 gulden dari PGDP. Tuan Lie Soen Giap, pemilik Biro Arsitek dan Pemborong Bangunan \u201cELKA\u201d, bertindak selaku pelaksana pembangunan \u201cgereja darurat\u201d kedua ini.<\/p>\n<p>Dengan biaya segitu dan pakai jasa sebuah biro, kapan selesainya \u201cgereja darurat\u201d ini ya?<\/p>\n\n<h2>Pemberkatan \u201cGereja Darurat\u201d Kedua dan Sebuah Tawaran<\/h2>\n<p>Pembangunan berlangsung cepat karena memang kebutuhan akan tempat ibadah besar dengan bertambahnya jumlah umat. Pada hari Minggu, 16 Juli 1950, Mgr. Willekens memberkati \u201cGereja Darurat\u201d Kedua yang sudah berdiri.<\/p>\n<p>Di tahun yang sama, juga ada rencana untuk membangun gereja permanen di situ. Namun kali ini, sebuah tawaran menarik membatalkannya.<\/p>\n<p>Di manakah kira-kira letak \u201cGereja Darurat\u201d Kedua ini? Tawaran apa yang membatalkan rencana pembangunan gereja permanen di situ?<\/p>\n\n<h2>Melacak Jejak<\/h2>\n<p>Ibu Mira, pemilik King\u2019s Barber Shop di Jl. Mangga Besar Raya no. 26; Bapak Budi, pegawai Bea Cukai di Jl. Mangga Besar Raya no. 26. Kedua narasumber itu memberikan keterangan letak kira-kira \u201cgereja darurat kedua\u201d saat sesi wawancara. Kedua gedung itu (barbershop dan bea cukai) berdiri berdampingan di alamat yang sama.<\/p>\n<p>Jadi penasaran nih apa kata mereka. Kamu juga?<\/p>\n\n<h2>Kata Mereka<\/h2>\n<p>Keduanya sepakat:<\/p>\n<blockquote>\n<p>\u201cSetelah memakai gedung HCS (Sekolah Boedi Moelia \u2013 lebih tepatnya di pendopo), gereja sebagai tempat ibadah pindah ke daerah Prinsenlaan no. 26. Posisi yang lebih ke arah Barat, di dekat kali beton atau Gang Sumur Bor.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Kebanyakan warga kini menyebut Jl. Mangga Besar no. 26 itu sebagai Gang Sumur Bor. Ada info lain lagi dari mereka berdua?<\/p>\n\n<h2>Info Tambahan<\/h2>\n<p>Karena adanya bangunan gereja di kompleks no. 26, tanah di sekitarnya juga dinamai Gang Gereja. (keterangan Ibu Mira) Lahan itu kini sudah menjadi kompleks ruko dan perkantoran (tidak ada jejak lagi bangunan gereja). Pihak gereja sudah menjual area yang memakai nomor 26 hingga nomor 30 (Rumah Makan Padang \u201cSederhana\u201d), sehingga kepemilikannya sudah berpindah tangan lebih dari 1 kali. (keterangan Pak Budi)<\/p>\n<p>Lantas, masih ada info lain seputar \u201cGereja Darurat\u201d Kedua ini?<\/p>\n\n<h2>Kapasitas \u201cGereja Darurat\u201d Kedua<\/h2>\n<p>\u201cGereja Sementara\u201d kedua dapat menampung sekitar 900 orang. Umat yang hadir tersebar dari wilayah: Mangga Besar, Toasebio, Jembatan Tiga, dan bahkan Tangerang. Saat itu, Paroki Mangga Besar masih melayani umat daerah Tangerang sampai tahun 1955.<\/p>\n<p>Wow, kapasitasnya jauh melebihi \u201cGereja Darurat\u201d Pertama yang sekitar 500 orang! Jadi penasaran, apa ada cerita lain lagi dari gereja sementara di pendopo HCS itu?<\/p>\n\n<h2>Nantikan: \u201cGereja Darurat\u201d Pertama &#038; Sekolah Santo Yoseph (1950-an)<\/h2>\n<p>Edisi pekan depan bakal menjawab pertanyaan di akhir slide yang tadi. Perkembangan umat \u201cGereja Darurat\u201d Pertama akan berhubungan dengan karya misi untuk etnis Tionghoa di Sekolah Santo Yoseph. Kira-kira apa yah?<\/p>\n<p>Lalu, soal tawaran menarik di akhir slide \u201cPemberkatan Gereja Darurat Kedua\u201d bakal terjawab di sekitar edisi 2 atau 3 pekan berikutnya.<\/p>\n\n<p class=\"sumber\"><strong>Sumber rangkaian Edisi Spesial:<\/strong><br>\nBuku Kenangan HUT 80 Tahun Paroki Mangga Besar \u2013 Jakarta Barat (3 Januari 2020)\n<\/p>\n\n<p class=\"caption\">\nTanpa terasa, pemakaian GKP (Gedung Karya Pastoral) sebagai \u201cgereja sementara\u201d Paroki Mangga Besar terhitung sudah lebih dari 3 bulan. Bagi umat yang rutin datang minimal misa mingguan pasti sudah terbiasa. Tentu ada suka duka dalam menjalani Misa Kudus di kedua gedung berlantai 4 (lobi dan lantai 1-3) ini, khususnya saat kebagian di ruangan yang bukan Aula GKP Petrus sebagai ruangan utama.<br><br>\n\nPara petugas liturgi dan imam (romo) juga punya cerita sendiri. Kesulitan dan tantangan di gedung yang sudah modern dan canggih (lift di GKP Petrus) tentu belum seberapa kalau mau dibandingkan dengan kerepotan yang terjadi antara tahun 1946 sampai tahun 1950 lalu. Bayangkan, di masa itu lokasi Misa dan gedung Pastoran terpisah jarak cukup jauh meski sama-sama berada di Jl. Mangga Besar Raya! (slide \u201cKerepotan yang Terjadi\u201d)<br><br>\n\nJadi kerepotan ketika terjadinya sebuah proses transformasi besar sudah Paroki Mangga Besar alami selama berkali-kali. Di balik tantangan itu, ada hal yang menggugah hati kita sebagai umat beriman: kapasitas \u201cGereja Darurat\u201d Pertama sekitar 500 orang menjadi sekitar 900 orang sebagai kapasitas \u201cGereja Darurat\u2019 Kedua (slide \u201cKapasitas\u2026\u201d). Belum lama ini, kuotanya sudah jauh lebih besar lagi di gedung permanen gereja pertama, yang sudah menjadi sejarah. Semoga Edisi Spesial kali ini juga mampu mengobarkan semangat hidup dan berkarya kita semua, tidak hanya sekadar menginspirasi saja.\n<\/p>\n\n<\/div>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tujuan Lahan di Prinsenlaan No. 26 Dalam slide \u201cCikal Bakal Paroki\u201d edisi kelima lalu, ada info setelah Paroki diresmikan, Pastor Leo Zwaans merencanakan membangun gedung gereja di Jalan Prinsenlaan no.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[236],"tags":[],"class_list":["post-24773","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-katakese-singkat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24773","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24773"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24773\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24778,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24773\/revisions\/24778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24773"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24773"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solped.net\/paroki\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24773"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}